Rabu, 15 Januari 2014

PENYIMPANGAN AJARAN TAUHID DI DALAM AGAMA YAHUDI (6)

PARA NABI BANI ISRAIL SETELAH NABI MUSA

Tak seorang pun yang dapat keluar dari keadaan tersesat dari orang-orang yang bersama
Musa kecuali dua orang, yaitu kedua laki-laki yang memberitahu masyarakat Bani Israil untuk
memasuki desa yang dihuni oleh orang-orang yang jahat. Para mufasir berkata bahwa salah
seorang di antara mereka berdua adalah Yusya' bin Nun. Ia adalah seorang pemuda yang ikut
bersama Musa dalam kisah perjalanan Musa bersama Khidir. Dan sekarang ia menjadi Nabi yang
diutus untuk Bani Israil. Ia juga seorang pemimpin pasukan yang menuju ke bumi yang Allah
SWT memerintahkan mereka untuk memasukinya. Allah SWT telah memerintah Musa untuk
mempersiapkan Bani Israil dan menjadikan mereka para pemimpin, sebagaimana firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami
angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku
beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman
kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman
yang baik, sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan
Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa
yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus." (QS.
al-Maidah: 12)

Demikianlah kita melihat perjanjian yang bersyarat di mana Allah SWT meletakkan janji
atas mereka, yaitu agar mereka berperang dan tidak lari dari medan peperangan, dan hendaklah
mereka mendirikan salat dan mengeluarkan zakat serta beriman kepada para rasul dimulai dari
Nabi Musa yang diturunkan kepadanya kitab Taurat dan diakhiri oleh Nabi Muhammad saw
yang Allah SWT telah menyampaikan berita gembira tentang kedatangannya di dalam Taurat
ketika Taurat masih otentik, yang belum disentuh oleh penyimpangan dan kebohongan.

Yusya' bin Nun keluar dan selamat dari keadaan tersesat yang dialami oleh Bani Israil.
Lalu beliau menuju ke tanah suci. Beliau berjalan bersama mereka sehingga melewati sungai
Jordan dan sampai ke Ariha, yaitu tempat atau kota yang paling kuat pagarnya dan istana yang
paling tinggi dan paling padat penduduknya. Beliau mengepungnya selama enam bulan.
Kemudian pada suatu hari mereka mengelilinginya dan menyembunyikan terompet. Tiba-tiba,
pagar kota itu menjadi rusak dan roboh. Kita lihat bahwa senjata yang pertama kali mereka
gunakan dalam peperangan mereka sangat mengagumkan. Para penyerang menggunakan
kekuatan suara untuk pertama kalinya sebagai senjata. Desakan yang keras dari terompet-
terompet itu menjadi penyebab hancurnya atau rusaknya pagar-pagar kota. Kami tidak
mengetahui, apakah Allah SWT mewahyukan kepada Yusya' bin Nun untuk melakukan tindakan
ini, atau ini inisiatif pribadinya sebagai pemimpin pasukan, atau hal itu terjadi secara kebetulan.
Mereka tetap menyembunyikan terompet-terompet tanduk selama enam bulan, yaitu masa
pengepungan sehingga mereka dikagetkan dengan jatuhnya pagar-pagar kota.

Terdapat cerita bohong yang berkaitan dengan hal itu yang menyebutkan bahwa matahari
sempat berhenti berputar sampai Yusya' bin Nun telah berhasil menaklukkan tanah suci. Cerita
dongeng itu direkayasa oleh orang-orang Yahudi. Matahari dan bulan merupakan tanda-tanda
kebesaran Allah SWT dan keduanya tidak akan berhenti karena kematian seseorang atau karena
kehidupannya. Meskipun terdapat kejadian luar biasa dan mukjizat yang mengagumkan di
tengah-tengah Bani Israil namun semua itu tidak bertentangan dengan hukum alam dan
sistemnya.

Kemudian Allah SWT mengeluarkan perintah-Nya kepada Bani Israil untuk memasuki
kota dalam keadaan sujud. Yakni, hendaklah mereka rukuk dan menundukkan kepala mereka
sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas segala karunia yang diberikan-Nya kepada
mereka, yang berupa penaklukan kota itu. Ketika mereka memasuki kota itu, mereka
diperintahkan untuk mengatakan:

"Bebaskanlah kami dari dosa kami." (QS. al-A'raf: 161)

Yakni, hilangkanlah kesalahan kami yang dahulu dan jauhkanlah kami dari apa yang
diperbuat oleh para orang tua kami. Tetapi, Bani Israil menentang dan tidak melaksanakan apa
yang diperintahkan kepada mereka, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Mereka
memasuki pintu dalam keadaan congkak dan sombong dan mereka mengganti ucapan yang tidak
selayaknya mereka ucapkan. Oleh karena itu, mereka terkena siksa Allah SWT atas kelaliman
yang mereka perbuat. Kejahatan yang dilakukan orang tua adalah kehinaan, sedangkan kejahatan
anak-anak adalah sikap sombong dan mendustakan kebenaran. Allah SWT berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka (Bani Iasrail): 'Diamlah di negeri ini
saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan
katakanlah: 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil
membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.' Kelak akan Kami tambah
(pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maha orang-orangyang lalim di antara
mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka,
sehingga Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kelaliman mereka." (QS.
al-A'raf: 161-162)

Ini bukanlah kejahatan pertama kali yang dilakukan oleh Bani Israil dan juga bukan
kejahatan yang terakhir kali. Mereka telah menyiksa rasul-rasul mereka yang cukup banyak
setelah Nabi Musa. Taurat yang ada di tangan mereka berubah menjadi kertas-kertas yang
mereka tampakkan sebagiannya dan mereka sembunyikan sebagian yang lain, bahkan mereka
pun berani mempermainkan akidah. Al-Qur'an mencatat semua ini dalam surah al-An'am:

"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan pmghormatan yang semestinya dikala
mereka berkata: 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.' Katakanlah: 'Siapakah
yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi
manusia, kamu menjadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu
perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan
kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?' Katakanlah: 'Allah-
lah (yang menurunkannya),' kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Qur'an kepada mereka,
biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.'" (QS. al-An'am: 91)

Jika pernyataan tersebut berlaku kepada cucu-cucu Bani Israil yang hidup di jazirah Arab
maka jelas sekali—melalui sejarah Bani Israil sendiri—bahwa Taurat tidak selamat dari usaha
yang menyimpang ini atau usaha yang sia-sia ini di mana Taurat pun disembunyikan
sebagiannya dan ditampakkan sebagian yang lain sesuai dengan tuntutan keadaan mereka dan
kepentingan mereka. Sikap penentangan inilah yang melatarbelakangi datangnya siksaan-siksaan
kepada Bani Israil. Bani Israil kembali melalimi diri mereka sendiri. Mereka mengira bahwa
mereka adalah bangsa pilihan Allah. Mereka menganggap—karena pengaruh dari keyakinan
ini—bahwa mereka berhak untuk jnelakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka, sehingga
banyak sekali kesalahan dan dosa di tengah-tengah. Bahkan kejahatan yang mereka lakukan
terhadap kitab-kitab suci kemudian menjalar kepada nabi mereka di mana mereka membunuh
para nabi.

"Dan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar." (QS. an-Nisa': 155)

Akibatnya, Allah SWT menjadikan mereka—setelah diliputi dengan rahmat para nabi—
dikuasai oleh kekerasan para raja yang jahat. Para raja itu menyiksa mereka dan menumpahkan
darah mereka. Allah SWT menjadikan mereka dikuasai oleh musuh-musuh mereka, dan harta-
harta mereka dirampas. Namun bersama mereka masih ada peti perjanjian, yaitu peti yang masih
menyimpan sebagian yang ditinggalkan oleh Musa dan Harun. Dikatakan bahwa peti ini
menyimpan papan-papan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan tetap terpelihara
dengan berlalunya waktu. Peti ini memiliki berkah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan
mereka dan peperangan mereka. Adanya peti di antara mereka pada saat peperangan, menjadikan
mereka merasakan ketenangan dan ketegaran sehingga mereka pun mendapatkan kemenangan.
Dan ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri, Taurat dicabut dari hati mereka sehingga
tidak ada lembaran Taurat yang bersama mereka. Lalu peti perjanjian itu hilang. Kemudian
keadaan sulit menimpa Bani Israil karena kesalahan dan dosa mereka serta keras kepalanya
mereka. Lalu berlalulah tahun demi tahun dan kebutuhan akan kehadiran nabi sangat mereka
dambakan. Mereka ingin lepas dari berbagai penderitaan dosa dan kesalahan.

Allah SWT menurunkan banyak sekali Nabi dan Rasul, namun kita sebagai muslim hanya wajib
mengetahui 25 orang Nabi dan Rasul. Nabi yang diturunkan untuk bangsa Yahudi diantaranya, adalah
Nabi Daud as., Nabi Sulaiman as., Nabi Harun as., Nabi Musa as., Nabi zakaria as., Nabi Yahya as, Nabi
Isa as.(Yesus), Nabi Yesaya, Nabi Daniel, Nabi Yeremia, Nabi Yehezkiel, Nabi Uzair, Nabi Amos, Nabi
Hosea, Nabi Mikha, Nabi Hagai, Nabi Habakuk, Nabi Maleakhi, Nabi Nahum, Nabi Obaja, Nabi Yoel,
Nabi Hanani, Nabi Makayah dan Nabi Zefanya . Mereka adalah sebagian kecil Nabi dan Rasul yang
diutus bagi bani Israil atau bangsa Yahudi dan berasal dari bangsa Yahudi (keturunan Nabi Yakub as.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar