Rabu, 15 Januari 2014

PENYIMPANGAN AJARAN TAUHID DI DALAM AGAMA YAHUDI (4)

KAUM MUSA MENYEMBAH PATUNG
ANAK SAPI

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-
perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak
mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula)
menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka
adalah orang-orang yang lalim.

Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah
sesat, mereka pun berkata: ""Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan
tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi""." (QS. Al-A.raaf:
148-149)

Ketika Musa a.s. sedang menyendiri di hadirat Tuhannya, dalam suasana yang tak dapat
dibayangkan oleh mata dan pikiran kebingungan memikirkannya, tiba-tiba kaumnya melakukan
pembelotan, membuat patung anak sapi yang dapat bersuara –tetapi tidak hidup- dan
menyembahnya di samping Allah.

Kita dikejutkan oleh Alquran dengan peralihan paparannya yang melompat begitu jauh.
Suatu lompatan besar dari suasana ketinggian yang memancarkan kesucian, kerinduan, dan
peribadatan, serta kalimat-kalimatNya; kepada suasana kerendahan dan keburukan yang penuh
dengan khurafat, keterbalikan, dan pembelotan.

Itulah karakter Bani Israil, yang hampir tidak pernah lurus satu langkah pun melainkan
sudah bengkok kembali dan menyimpang dari jalan yang sebenarnya. Juga hampir tidak pernah
meningkat dari dataran indrawi di dalam persepsi dan berakidah dan mudah berbalik kalau
pengarahan dan pembinaan terhadap mereka berhenti sebentar saja.

Sebelumnya mereka telah membujuk nabi mereka agar membuatkan berhala untuk
mereka jadikan tuhan sesembahan hanya semata-mata karena mereka melihat suatu kaum
penyembah berhala sedang melakukan penyembahan kepada berhala-berhala mereka. Lalu nabi
mereka menghalangi mereka dari sesuatu yang membahayakan itu dan menolaknya dengan
keras.

Namun, mereka kembali kepada diri mereka sendiri (tanpa didampingi Nabi Musa) dan
melihat patung anak sapi yang terbuat dari emas yang tidak ada kehidupan padanya sebagaimana
dipahami dari kata jasad =tubuh‘, dibuat oleh Samiri dari kampung Samirah sebagaimana
dijelaskan kisahnya dalam surah Thaahaa yang memodifikasi patung sedemikian rupa hingga
dapat mengeluarkan suara seperti suara sapi.

Ketika mereka melihat patung anak sapi tersebut, mereka berhamburan mendekatinya
dan terkecoh ketika Samiri berkata kepada mereka, .Ini adalah tuhan kamu dan tuhan Musa, di
mana Musa pergi menemuinya selama beberapa waktu itu, lalu Musa lupa terhadap janji
dengannya..

Mungkin karena adanya tambahan selama sepuluh hari yang tidak diketahui oleh Bani
Israil, maka ketika sudah lebih dari tiga puluh hari dan Musa belum kembali kepada kaumnya,
Samiri berkata kepada mereka, .Musa telah melupakan janjinya untuk bersama Tuhannya, maka
inilah Tuhannya!.

Mereka tidak ingat pesan nabi mereka sebelumnya agar mereka hanya menyembah
Tuhan mereka saja yang tidak terlihat oleh mata yaitu Tuhan semesta alam, dan mereka tidak
mau memikirkan hakikat patung anak sapi yang dibuat oleh salah seorang dari mereka.

Ini adalah gambaran yang hina tentang sikap dan tindakan manusia yang direfleksikan
oleh Bani Israil itu. Sebuah gambaran yang dilukiskan secara menakjubkan oleh Alquran yang
dihadapkannya kepada kaum musyrikin di Mekah yang menyembah berhala.

.Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan
mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya
(sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang zalim.

Adakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembah sesuatu yang dibuat oleh
tangan manusia, sedangkan Allah yang menciptakan mereka dan apa yang mereka buat itu.

Di tengah-tengah mereka terdapat Nabi Harun a.s., tapi ia tidak berdaya untuk menolak
mereka dari kesesatan yang hina ini. Di kalangan mereka juga terdapat para cendekiawan dan
pemikir, tetapi tidak mampu mengendalikan mayoritas masyarakat yang sesat dan tertarik untuk
menyembah patung anak sapi, lebih-lebih terbuat dari emas, sebagai sembahan Bani Israil.

Akhirnya gejolak itu reda, hakikat yang sebenarnya tersingkap, kesalahannya terkuak,
kesesatannya sudah jelas, dan datanglah penyesalan dan pengakuan.

.Setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah
sesat, mereka pun berkata, =Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan
tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.. (QS. Al-A‘raaf: 149)

Dikatakan =jatuh di tangannya‘ apabila sudah tidak ada daya dan upaya untuk menolak
sesuatu yang dihadapinya. Ketika Bani Israil mengetahui bahwa mereka, setelah melakukan
pembelotan ini, berada dalam suatu kondisi buruk yang tak dapat ditolak, maka timbullah
kesadaran mereka, lalu mereka berkata, .Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat
kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi..

Perkataan ini menunjukkan bahwa pada diri mereka hingga waktu itu masih ada potensi
kesalehan. Hati mereka belum mngeras sekeras sesudah itu nanti yang seperti batu atau lebih
keras lagi sebagaimana diterangkan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui tentang mereka.


Setelah jelas bagi mereka kesesatan mereka, mereka menyesal dan mengakui bahwa tidak
ada yang dapat menyelamatkan mereka dari akibat perbuatan mereka itu kecuali jika mereka
mendapatkan rahmat dan ampunan dari Tuhan mereka. Inilah pertanda baik yang menunjukkan
masih adanya potensi kesalehan dalam fitrah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar