Rabu, 15 Januari 2014

PENYIMPANGAN AJARAN TAUHID DI DALAM AGAMA YAHUDI (12)

ZIONISME

Zionisme awalnya merupakan gerakan politik Yahudi sekuler yang menginginkan
berdirinya negara Yahudi di atas bukit Zion di Palestina dan sekitarnya. Gerakan ini
dilatarbelakangi klaim sepihak Yahudi atas Palestina seperti yang tercantum ada kitab iblis
Talmud dan kemudian diperkuat oleh ribuan catatan kaki yang memenuhi Injil Scofield dan Injil
versi King James yang awalnya banyak dipakai orang Barat. Injil Scofield inilah yang
melahirkan kelompok Judeo-Christian, sebuah kelompok Kristen yang mendukung Zionisme.

Zion merupakan nama sebuah bukit yang terletk di barat day Al-Quds (Yerusalem).
Kaum Yahudi percaya, pada lokasi tersebut, King Solomon (Nabi Sulaiman a.s.) pernah
membangun istananya (haikalnya) dan menyimpan banyak harta karun di bawah tanah tersebut.
Harta tersebut bukan hanya banyak sekali, namun memiliki daya magis yang sangat besar
sehingga mereka percaya akan bisa menjadi pemimpin dunia jika memilikinya.

Tepat di hari jatuhnya Yerusalem, Godfroy de Bouillon mendirikan Ordo Sion yang
kemudian melahirkan Ordo militer Ksatria Templar. Semua ini balik ke Eropa setelah berhasil
dikalahkan Shalahudin Al-Ayyubi (1187). Di Eropa, mereka ditumpas King Philip Le Bell dan
Paus Clement pada 13 Oktober 1307.

Dua peneliti Inggris, Knight dan Lomas, di dalam bukunya .The Hiram Key. menulis
bahwa mereka telah menemukan sisa-sisa penggalian yang dilakukan Templar di salah satu
bagian tanah yang masih masuk dalam markasnya. Apa yang dilakukan para Templar ini terus
berjalan selama berabad-abad hingga sekarang, di mana kaum Zionis-Yahudi terus melakukan
penggalian di lokasi tersebut.

Seiring dengan perjalanan waktu, istilah =Zion‘ tidak lagi menjadi nama tempat, namun
juga sebuah nama gerakan bagi orang-orang Yahudi Sekuler untuk mendirikan satu negara di
Tanah Palestina dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Nathan Bernbaum merupakan tokoh
Zionis-Yahudi pertama yang =menyeret‘ istilah yang pada awalnya netral ini menjadi begitu
politis. Pada 1 Mei 1776 Nathan mencetuskan Zionisme sebagai gerakan politik bangsa Yahudi
untuk mendiami kembali tanah Palestina. Gagasan Bernbaum didukung sejumlah tokoh Yahudi.
Salah seorang tokohnya bernama Yahuda Kalaj yang melemparkan gagasan mendirikan =negara
Israel‘ di tanah Palestina. Dalam bukunya berjudul .Derishat Zion. (1826), Izvi Hirsch Kalischer
dengan getol mendukung Yahuda Kalaj dan memaparkan kemungkinan-kemungkinannya.

Ide berawal dari Nathan Bernbaum ini kemudian terus dimasak oleh tokoh-tokoh Yahudi
sehingga menjadi rencana aksi yang matang. Seorang Yahudi Jerman bernama Moses Hess,
menyatakan jika untuk menguasai Palestina, maka kaum Yahudi harus menggandeng orang-
orang Barat dan mempengaruhi mereka untuk mau kembali ke Palestina setelah kekalahan yang
memalukan dari umat Islam yang dipimpin Salahuddin Al-Ayyubi beberapa abad silam. Gagasan
tokoh Yahudi ini akhirnya mendapat dukungan dari sejumlah tokoh kolonialis Barat merasa
memiliki irisan kepentingan yang sama, yakni untuk menguasai wilayah Arab yang kaya.

Sejak itu maka mulailah orang-orang Yahudi mengalir ke Palestina dan daerah
sekitarnya. Apalagi keberadaan orang Yahudi di Eropa sesungguhnya tidak disukai oleh orang-

orang Kristen. Pada 1891 sejumlah pengusaha Palestina dengan nada prihatin mengirim telegram
ke Istambul, ibukota kekhalifahan Turki Utsmaniyah di mana kala itu Tanah palestina
merupakan bagian dari kekuasaannya. Dengan penuh nada cemas, para pengusaha Palestina
menyatakan imigrasi orang-orang Yahudi ke wilayahnya akan benar-benar jadi ancaman jika
tidak dihentikan dengan segera.

Lima tahun kemudian, terbit buku .Der Judenstaat. (1896) yang ditulis seorang
wartawan Yahudi-Austria bernama Theodore Hertzl. Buku itu secara detil mengajukan konsep
tentang upaya pendirian =negara Israel‘ di Palestina. Hertzl akhirnya dinobatkan sebagai =Bapak
Zionisme Modern‘. Strategi perjuangan Yahudi, oleh Hertzl, secara singkat bisa diungkapkan
dalam sebuah kalimat yang singkat namun penuh arti: “Bila kita tenggelam, kita akan menjadi
suatu kelas proletariat revolusioner, pemanggul ide dari suatu partai revolusioner; bila kita
bangkit, dipastikan akan bangkit juga kekuasaan keuangan kita yang dahsyat.” Sebuah kalimat
yang memiliki arti sangat dalam dan sungguh-sungguh dijalankan oleh gerakan Zionisme, karena
gerakan inilah yang kemudian melahirkan ide komunisme yang menyatakan sebagai pejuang
garda terdepan dalam membebaskan proletariat, dan juga kapitalisme yang merupakan negasi
dari ide komunisme. Dan kaum Zionis mengambil keuntungan dari pergolakan kedua kutub
tersebut.

Dalam bukunya Hertzl tanpa sungkan menegaskan bahwa untuk mewujudkan satu negara
Yahudi di atas tanah Palestina, maka mustahil dengan cara-cara demokratis. Bahkan Hertzl
memberikan resep jitu agar Tanah Palestina bisa dikuasai Yahudi yakni dengan jalan memenuhi
tanah Palestina dengan orang Yahudi sehingga Yahudi menjadi mayoritas. Untuk memperkecil
populasi orang Palestina maka segala cara harus dilakukan seperti teror, perang, pembersihan
etnis, penyebaran penyakit, pembukaan lahan kerja di negara tetangga, dan sebagainya. Agar
segala yang dilakukan gerakan Zionisme bisa diterima oleh dunia internasional, maka tokoh-
tokoh Yahudi seluruh dunia harus bisa memaksakan dunia internasional untuk mensahkan satu
undang-undang yang melegitimasi eksistensi Yahudi di Palestina.

Dalam bukunya Hertzl menulis, “Kami akan mengeluarkan kaum tidak berduit
(maksudnya bangsa Palestina) dari perbatasan dengan cara membuka lahan-lahan pekerjaan di
negara-negara tetangga, dan bersamaan dengan itu mencegah mereka memperoleh pekerjaan di
negeri kami. Kedua proses itu harus dilakukan secara rahasia..

Gerakan ini mengadakan kampanye ke seluruh dunia. Kaum Yahudi mencetak buku-
buku yang kelihatannya ilmiah yang menyatakan jika sebenarnya Tanah Palestina adalah tanah
yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Yahudi. Buku-buku ini disebar ke seluruh negeri. Bahkan
kitab suci orang Kristen pun diberi catatan kaki yang banyak yang seluruhnya menjadikan ayat-
ayat Injil sebagai dukungan bagi berdirinya negara Israel di Palestina. Scofield adalah orang
yang ditugaskan untuk memberi ribuan catatan kaki pro-Zionistik di dalam Injil versi James yang
menjadi Injilnya orang-orang Barat. Berbagai kelompok kajian alkitab disusupi dan menjadikan
orang-orang Eropa yang tadinya memusuhi Yahudi menjadi kini banyak yang menjadi
pendukung negara Israel.

Di dalam masa-masa itulah Hertzl menemui Sultan Abdul Hamid II sebagai Khalifah dari
kekhalifahan Turki Utsmaniyah (1876-1909). Dengan segala bujuk rayu, Hertzl berusaha agar

Sultan mengizinkan oarng-orang Yahudi mendirikan negara Israel di Palestina. Jika Sultan
bersedia, maka para pemilik modal Yahudi di seluruh Eropa akan memulihkan kas keuangan
Turki Utsmani yang sedang kosong. Namun Sultan menolak mentah-mentah hal ini sehingga
Zionis-Yahudi menghancurkan Turki Utsmaniyah lewat seorang agen Yahudi dari Tsalonika
bernama Mustafa Kamal Pasha.

Hertzl menggelar Kongres Zionis Internasional I di Swiss sebagai upaya penyatuan sikap
tokoh Zionis Dunia. Salah satu hasil kongres berbunyi: “Zionisme bertujuan untuk membangun
sebuah Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina yang dilindungi oleh undang-undang.”
Theodore Hertzl terpilih sebagai pimpinan gerakan ini dan menulis dalam buku hariannya,
“Kalau saya harus menyimpulkan apa hasil dari kongres Bassel itu dalam satu kalimat pendek,
yang sungguh tidak berani saya ungkapkan kepada masyarakat, saya akan berkata: „Di Bassel
saya menciptakan negara Yahudi!.” Protocolat of Zion yang berisi 24 strategi Zionis-Yahudi
menguasai dunia juga disahkan menjadi agenda bersama.

Selain menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani, Yahudi Internasional juga bekerja
siang-malam mempersiapkan segala hal untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Pada 2 November
1917, Menlu Inggris, Lord Arthur James Balfour, mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada
Pemimpin Komunitas Yahudi Inggris, Rothschild, untuk diteruskan kepada Federasi Zionis,
yang berisi pemberitahuan tentang persetujuan pemerintahan Inggris yang telah menggelar rapat
Kabinet tanggal 31 Oktober 1917, atas permintaan bangsa Yahudi untuk bisa mendapatkan tanah
Palestina. Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina masih berada di bawah Khilafah Turki
Utsmani, hanya saja kekhalifahan ini sudah diambang kehancuran. Batas-batas yang akan
menjadi wilayah Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot, 16 Mei
1916, antara Inggris dan Prancis.

Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan
Turki Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Penyebutan Palestina sebagai satu-satunya
nominator tempat berdirinya negara Yahudi sebenarnya memiliki catatan yang panjang. Awalnya
ada sejumlah tempat yang dianggap bisa menjadi tempat berdirinya negara Yahudi di Afrika dan
Amerika Selatan, seperti Mozambique, Kongo, Afrika, Uganda, bahkan Argentina dicalonkan
pada 1897, Cyprus pada 1901, Sinai pada 1902, dan atas usulan pemerintahan Inggris, Uganda
diusulkan kembali pada 1903.

Penyebutan tempat-tempat tersebut mendapat tentangan keras dari para Rabbi Yahudi
Konservatif. Apa yang digalang oleh Hertzl dan kelompok Zionisnya dianggap sebagai gerakan
sekularis yang menunggangi agama Yahudi. Bahkan dalam Kongres Para Rabbi di Philadelphia-
AS, pada akhir abad ke-19, salah satu putusannya adalah menentang adanya satu negara Yahudi
yang dipaksakan. Menurut kelompok Rabbi Konservatif ini, Zionisme merupakan gerakan
sekuler yang berlandaskan Talmud, sebuah kitab iblis, dan bukan Taurat Musa. Bagi para Rabbi,
negara Yahudi akan didirikan pada akhir zaman, yakni ketika Sang Messias Yahudi muncul dan
memimpin orang-orang Yahudi untuk mendirikan negaranya di Palestina. Bagi kalangan Zionis,
berdirinya negara Yahudi tidak harus menunggu kedatangan Messias di akhir zaman, hal ini
malah harus dilakukan secepatnya guna menyambut datangnya Messias. Inilah titik tolak
perbedaan pandangan antara Yahudi Zionis dengan Yahudi Anti Zionis yang sekarang ini salah
satu kelompoknya adalah Neturei Karta dan juga International Jews Anti Zionist (IJAN).

Dr. Chaim Weizmann, jurubicara organisasi Zionisme di Inggris dan pendukung utama
Zionisme merupakan seorang pakar kimia yang berhasil mensintesiskan aseton melalui
fermentasi. Aseton diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan eksplosif yang sangat berguna
dalam semua persenjataan Inggris. Jerman diketahui telah memonopoli ramuan aseton kunci,
kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Inggris tak bisa menciptakan aseton dan tanpa aseton
takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Dunia
I. Sebab itu, Inggris sangat berhutang budi pada Yahudi, khususnya kepada Weismann. Inilah
mengapa Inggris begitu mendukung kaum Yahudi untuk mendirikan negara di Palestina.

Pada 14 Mei 1948 Israel sebagai sebuah negara dideklarasikan dan David Ben Gurion
diangkat sebagai PM pertama. PBB mensahkan negara Israel. Langkah PBB ini membuktikan
kepada dunia jika lembaga internasional tersebut mendukung penjajahan bangsa Palestina yang
dilakukan oleh Zionis Israel. Berdirinya Israel didahului upaya teror, pembunuhan, dan
pengusiran terhadap bangsa Palestina, pemilik sah atas Tanah Suci tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar